
Seperti biasa seperti sesaat waktu lainnya,seperti kelanaku imajiku akanmu di batas waktu yang masih sedikit tersisa dan mulai menikmati waktu di sore yang lelah…di penggal waktu dimana seteguk kopi hitam yang tak lagi panas sisa tadi pagi masih kurasa nikmatnya.
Ahh…apalah yang masih bisa kurasa dan hanya saja ingin langkah ini menuju kesana ke tempat dimana langkah langkah kita berlarian tinggalkan jejak jejak di hamparan pasir yang kadang hempasan angin sore kering menerpa wajahmu dan dirimu pun panik ketika butir kecil pasir singgah di indah matamu dan aku hanya membiarkan saja dirimu menunggu memanggil namaku dengan suara kecilmu…dan ketika lelah menyergap pelarian kita tak ada yang lebih menenangkan seperti menikmati hamparan emas jingga sore itu,tak ada kata kata kita…tak ada gelisah gelisah kita…tak ada lelah lelah kita.
ahh…apalah yang masih bisa kurasa dan hanya saja semilir angin sore ini membelai ingatku seperti perlahan dirimu membelai pelan lelahku akan adanya kita yang kita sendiri kadang tak mengerti mengapa itu harus ada dan lembut jemarimu usap getir getir yang mengalir di perjalanan kita.tak apalah…ujarmu saat itu,inilah yang harus kita nikmati.
ahh… apalah yang masih bisa kurasa dan hanya saja riak riak kecil di basah jalanan kota tua ini selepas hujan menutup sesaat senja yang terhadirkan sore itu dan bias redup lampu kota terlukis lamat lamat seperti pelannya suara indahmu ucapkan tentang rasa dan cinta kita yang bergelegak di babak terakhir, sukacita tawaku tawamu.tak ada tanya tanya kita…tak ada kisah kisah kita… dan tak ada lagi…usai...terhenti...dan melayang
ahh…apalah yang bisa kurasa dan hanya saja satu pekat malam itu terdiam di sudut kelanaku dan dalam diamku dan dirimupun bisikkan rasa rasa di ujung perjalanan kita yang terjejakkan pada satu kita.aku masih disini…ujarmu saat itu,tak bisa kau lihat namun bisa kau rasakan…dan malam pun semakin memanggil pekatnya…
ahh…apalah yang bisa kurasa dan hanya saja desau sesaat malam itu ketika nafasku menggumamkan elok akan adanya dirimu yang memeluk hangat hasrat lelakiku dan biarkan kamuaku melayangkan gelora cinta seperti dahsyatnya samudra biru di kedalaman yang menggigil.
ahh…apalah yang bisa kurasa dan hanya saja selepas ku ajak diriku pergi sesaat jauh darimu dan kaupun kembali ingatkan rasa yang tergenggam di berbaringan sakitmu saat lemah dirimu terbaring dan senyum kecilmu sapa aku ketika pelan matamu terbuka menatapku dan tak ada yang bisa kuucapkan selain nyaman hatiku bersamamu
ahh…apalah yang masih bisa kurasa dan hanya saja lembaran lembaran pengembaran kita yang tertulis oleh pena hati yang dirimu torehkan di kitab kitab abadiku telah terkunci langkahmu yang menjauh dan sembunyi di tanya tak berkesudahan yang kau genggam bersama sedihmu yang tergambar di jejak jejak langkahmu
ahh…apalah yang masih kurasa dan maafkan aku yang masih memeluk kerinduanku ketika tidurku terjaga dan imajiku kembali berkelana..
diakhirduaribudelapan disaturabuditigadesember danselintashadirmuada
1 komentar:
Nah klo ko mau lihat kebalikan dari dunia, lihatlah blog ni.
sepintas kau lihat si pembuat blog, sungguh ngeri dengan perawakannya.
Tapi akan terperangah kita tatkla menyimak karya yang ia torehkan dalam kanvas elektrik ni.
nah dialah sang pengelana hidup, banyak bergelut dengan susahnya keduniawian. Dialah Jebs Roy,
Posting Komentar